Rabu, 4 November 2026 Edisi Digital • Kabar Cepat & Terpercaya Khas Paklek
Kuliner

Riwayat Kudapan Tradisional Onde-Onde dan Bakpia: Jejak Akulturasi Rasa Nusantara

Oleh: Redaksi Minggu, 4 Oktober 2026 6 menit baca 0 Komentar

Di samping itu, kekayaan kuliner Indonesia tidak hanya tercermin dari kelezatan hidangan utama berkuah rempah, melainkan juga terpancar anggun melalui aneka penganan kudapan pasar tradisional. Oleh karena itu, aroma manis kacang hijau kupas, gurihnya taburan biji wijen sangrai, serta kerenyahan kulit pastry berlapis tipis telah menemani waktu santai masyarakat Nusantara selama ratusan tahun. Dengan demikian, di antara sekian banyak kue basah dan kue kering tradisional, keberadaan onde-onde wijen dan kue bakpia panggang menempati ruang nostalgia tersendiri di ingatan kolektif keluarga Indonesia. Kendati demikian, menikmati sajian kudapan tradisional onde-onde bakpia membawa kita menyelami riwayat panjang akulturasi budaya yang manis antara peradaban Tiongkok kuno dan kearifan masyarakat tanah Jawa.

Di samping itu, kedua jajanan legendaris ini menjadi bukti autentik bagaimana perjumpaan budaya para saudagar perantau mampu beradaptasi secara harmonis dengan lidah dan bahan baku lokal Nusantara. Oleh karena itu, tanpa memicu gesekan sosial, peleburan teknik kuliner asing dengan selera pribumi justru melahirkan identitas oleh-oleh khas daerah yang membanggakan, seperti kota Mojokerto yang masyhur sebagai Kota Onde-Onde serta kawasan Pathuk di Yogyakarta yang identik dengan sentra industri bakpia rumahan. Oleh karena itu, merawat resep warisan leluhur ini merupakan wujud nyata penghormatan atas sejarah panjang keberagaman bangsa.

Jejak Onde-Onde Sejak Dinasti Tang hingga Kerajaan Majapahit

Di samping itu, riwayat kemunculan onde-onde bermula dari daratan Tiongkok pada masa kekuasaan Dinasti Tang sekitar abad ketujuh Masehi. Oleh karena itu, pada mulanya, kue berbentuk bola bulat yang ditaburi biji wijen ini termasyhur luas dengan nama jian dui dan tersaji istimewa khusus sebagai kudapan bangsawan di istana kekaisaran Chang’an. Dengan demikian, para pedagang Tionghoa yang berlayar melintasi rute Jalur Sutra Maritim membawa bekal kue ini saat berlabuh di pelabuhan-pelabuhan niaga kepulauan Nusantara.

Di samping itu, catatan sejarah lokal mencatat bahwa penganan ini mulai termasyhur luas luas oleh masyarakat Jawa sejak era keemasan Kerajaan Majapahit pada abad keempat belas di kawasan Trowulan, Mojokerto. Oleh karena itu, masyarakat setempat dengan cerdas memodifikasi isian kue yang semula menggunakan daging manis menjadi pasta kacang hijau kupas yang dihaluskan bersama gula kelapa dan daun pandan wangi. Dengan demikian, modifikasi bahan nabati ini selaras dengan ajaran masyarakat yang mengutamakan kesucian bahan pangan.

Di samping itu, selain perubahan isian, kulit onde-onde diolah menggunakan tepung beras ketan putih lokal yang menghasilkan tekstur kenyal dan lembut saat digigit. Oleh karena itu, biji wijen yang menyelimuti seluruh permukaan luar bola ketan memberikan sensasi aroma kacang panggang yang sangat wangi ketika bersentuhan dengan minyak goreng panas. Alhasil, onde-onde lekas bertransformasi menjadi hidangan pesta rakyat yang melambangkan kebulatan tekad, kemakmuran, dan kebahagiaan hidup.

Kisah Kelahiran Bakpia Pathuk sebagai Simbol Harmoni Budaya

Di samping itu, tidak jauh berbeda dari riwayat onde-onde, kue bakpia menyimpan narasi akulturasi budaya yang tidak kalah memikat di tanah Kesultanan Yogyakarta. Oleh karena itu, kata bakpia secara etimologis berasal dari dialek Hokkian, yakni bak yang berarti daging dan pia yang berarti kue kue kering panggang. Dengan demikian, pada masa awal kedatangannya di awal abad kedua puluh, imigran asal Fujian Tiongkok membuat kue pastry ini dengan isian daging olahan yang dipanggang di atas tungku arang tanah liat.

Namun demikian, menyadari mayoritas masyarakat Jawa memeluk agama Islam dan tidak mengonsumsi daging tersebut, para perajin kue Tionghoa di perkampungan Pathuk Yogyakarta segera beradaptasi. Di samping itu, mereka mengganti isian daging menggunakan olahan kacang hijau manis yang mengolah bahan lembut dengan santan kelapa murni dan sedikit garam gurih. Oleh karena itu, keberanian beradaptasi ini disambut dengan antusiasme luar biasa oleh masyarakat lokal dan para bangsawan keraton.

Di samping itu, sejak dekade 1940-an, industri rumahan bakpia mulai berkembang pesat di sepanjang gang sempit Kampung Pathuk. Oleh karena itu, para pembuat kue menandai jenama produk mereka menggunakan nomor rumah masing-masing, melahirkan jenama legendaris seperti Bakpia 75, Bakpia 25, hingga Bakpia 55 yang bertahan hingga hari ini. Dengan demikian, keberadaan kue bakpia menjadi simbol abadi toleransi dan persaudaraan lintas etnis yang hidup berdampingan secara damai di tanah Jawa.

Kunci Menggoreng Onde-Onde Renyah Anti Kempes

Di samping itu, membuat kudapan tradisional onde-onde bakpia menuntut ketelitian teknik yang tinggi, terutama pada tahapan penggorengan bola ketan berwijen. Oleh karena itu, tantangan terbesar para pembuat kue pemula adalah kulit onde-onde yang meletus di dalam wajan atau menjadi kempes berkerut setelah ditiriskan dari minyak panas.

Di samping itu, kunci rahasia para perajin senior di Mojokerto terletak pada penggunaan metode penggorengan api lilin bersuhu rendah. Oleh karena itu, masukkan bola-bola onde-onde ke dalam wajan yang berisi minyak kelapa dalam kondisi minyak masih dingin atau hangat kuku. Dengan demikian, jangan pernah memasukkan adonan ketan ke dalam minyak yang sudah mendidih panas karena perbedaan tekanan udara di dalam rongga kue akan memicu ledakan minyak yang berbahaya.

Di samping itu, biarkan onde-onde terendam perlahan dengan api sangat kecil hingga bola-bola ketan mengapung sendiri ke permukaan minyak. Selanjutnya, putar-putar bola ketan secara melingkar menggunakan spatula kayu berlubang agar panas minyak terdistribusi merata dan kulit wijen matang merekah keemasan. Oleh karena itu, setelah kulit mengeras kokoh, besarkan api sedikit selama satu menit guna mengunci kerenyahan sebelum ditiriskan. Dengan demikian, onde-onde Anda akan tetap bulat mekar sempurna tanpa risiko kempes kendati sudah berada di suhu ruang selama seharian penuh.

Rahasia Kulit Bakpia Berlapis Tipis dan Lembut

Sementara itu, kesempurnaan sebutir kue bakpia panggang dinilai dari kerapuhan kulit pastry yang berlapis-lapis tipis (flaky pastry) dan kelembutan pasta isian di dalamnya. Di samping itu, untuk menciptakan lapisan kulit yang berlipat ganda, perajin memadukan dua jenis adonan tepung terigu yang berbeda karakteristik.

Di samping itu, adonan pertama berupa adonan air yang terdiri dari tepung terigu protein sedang, air hangat, gula pasir halus, dan minyak nabati. Sementara itu, adonan kedua berupa adonan lemak yang terdiri dari tepung terigu dan shortening nabati tanpa air. Oleh karena itu, kedua adonan ini kemudian digilas tipis, ditumpuk bersilang, lalu digulung berulang kali sebelum dipotong menjadi bulatan kecil siap isi.

Di samping itu, teknik penggilasan lipat ganda ini menciptakan kantong-kantong udara mikroskopis di antara lapisan tepung saat dipanggang di atas pelat besi panas. Alhasil, kulit bakpia terasa renyah rapuh di bagian luar, namun lumer lembut berpadu rasa manis pasta kacang hijau di lidah pembeli saat dikunyah.

Inovasi Varian Rasa Modern Menatap Masa Depan

Di samping itu, menghadapi selera generasi muda yang dinamis, para perajin kudapan tradisional onde-onde bakpia terus berinovasi menghadirkan variasi rasa kekinian. Oleh karena itu, di sentra oleh-oleh modern, kita kini dapat dengan mudah menjumpai bakpia kukus dengan lelehan cokelat pasta lumer, isian keju edam gurih, bubuk teh hijau matcha, hingga varian buah durian medan asli.

Di samping itu, serupa dengan bakpia, onde-onde modern kini tampil memikat dengan isian lumer seperti krim telur asin (salted egg), taro ubi ungu, selai hazelnut, hingga keju mozarella tarik. Oleh karena itu, inovasi kreatif ini sukses menarik minat generasi muda untuk kembali mencintai jajanan pasar warisan leluhur mereka sendiri tanpa rasa canggung.

Di samping itu, pada akhirnya, melestarikan kudapan tradisional onde-onde bakpia adalah upaya menjaga benang merah sejarah identitas bangsa yang agung. Oleh karena itu, dari sebiji onde-onde wijen yang kenyal gurih hingga sepotong bakpia manis yang legit, kita belajar tentang arti adaptasi, toleransi budaya, dan ketekunan karya tangan manusia. Dengan demikian, menikmati kedua jajanan klasik ini bersama secangkir teh tawar hangat di sore hari adalah perayaan sederhana atas kekayaan warisan rasa Nusantara yang tak ternilai harganya.

Bagikan Berita Ini: WhatsApp Facebook Bagikan
Penulis & Redaksi

Redaksi

Jurnalis dan kontributor konten News Paklek. Menyajikan kabar cepat, aktual, dan lugas khas obrolan Paklek.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *